Generasi Muda dan Evangelisasi Baru
[ News ] posted by Antonius Haryanto   2012-10-18 23:03:49   ( dilihat 410 )

GENERASI MUDA DAN EVANGELISASI BARU

“JANGANLAH KATAKAN: AKU INI MASIH MUDA
(Yeremia 1:7)

Ringkasan Gagasan Pendukung yang disediakan oleh Lembaga Biblika Indonesia.
Dikerjakan oleh Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang.

1. PENDAHULUAN

Dalam Kisah 2:41-47 digambarkan hidup jemaat “yang disukai semua orang.” Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang disela¬matkan”. Kaum muda adalah harapan Gereja untuk membangun Gereja sedemikian rupa hingga tetap “disukai semua orang”.

2. EVANGELISASI GAYA YESUS, JEMAAT PERTAMA DAN MASA KINI

Gagasan pendukung ini menawarkan permenungan tentang evangelisasi dan tentang pelbagai seginya, dengan selalu - dalam setiap permenungan - memp¬erhatikan (a) gaya Yesus Kristus; (b) gaya jemaat pertama; (c) gaya jemaat sekarang; dan (d) gaya baru.

Konkritnya generasi muda Katolik diajak untuk bersama-sama merenungkan:

a. bagaimana Yesus Kristus sendiri menjalankan evangelisasi, lalu mene¬ladani semangat dan cara Yesus Kristus sebagai “Penginjil Pertama dan Terbesar” (Evangelii Nuntiandi 7).
b. bagaimana jemaat pertama menjalankan evangelisasi, agar semangat dan cara evangelisasinya sebagai pengikut dan saksi Yesus Kristus yang sejati dapat diteladani. (bdk Kisah 4:18-20; 5:27-32).
c. bagaimana jemaat sekarang menjalankan evangelisasi, dibandingkan dengan gaya Yesus Kristus dan gaya jemaat pertama agar dapat dilihat mana yang baik dan mana yang tidak baik, sehingga tidak jatuh pada kesalahan yang sama.
d. manakah gaya evangelisasi yang terbaik pada jaman modern ini. Genera¬si muda Katolik perlu mengenal dengan baik masyarakat sekarang dan di masa depan, dan berusaha mencari gaya evangelisasi yang cocok untuk mereka. Sebab meskipun “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8), namun masyarakat selalu berubah dari jaman ke jaman (bdk Hak 2:6-10), dan berlainan dari daerah ke daerah (bdk Kisah 2:8-11; 15:1-2; 17:21.32; 23:6-8). Karena itu, Yesus Kristus yang satu dan sama sepanjang masa harus diwartakan secara berbeda sesuai dengan keadaan nyata masyarakat, supaya Firman yang ditaburkan itu jatuh di tanah yang baik lalu berbuah banyak (bdk Matius 13:3-9.18-23; Markus 4:2-9.13-20; Lukas 8:4-7.11-15).

2.1. Yesus Kristus, Penginjil teladan kaum muda.

Yesus Kristus “Penginjil Pertama dan Terbesar” (Evangelii Nuntiandi 7) itu adalah tokoh generasi muda pada jamanNya. “Ketika Yesus memulai pekerjaanNya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun” (Lukas 3:23). Karena masih dianggap “muda” oleh orang-orang Yahudi, mereka - khususnya generasi tua yang terdiri dari “tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat” (Markus 8:31) - menolak pengajaranNya (bdk Matius 13:53-58; Markus 6:1-6a; Lukas 4:16-20).

2.2. Murid-murid Yesus dan jemaat Pertama.
Yesus mempunyai banyak pengikut. Kemudian dipilih 12 yang disebut rasul.

Juga ditunjuk 70 murid yang diutus berdua-dua ke setiap kota yang hendak dikunjungiNya. Kemudian banyak murid yang mengundur¬kan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Hanya kelompok 12 rasul yang tetap setia. Ketika Yesus ditangkap, semua murid pergi. Tinggal beberapa perempuan yang menemani Yesus sampai di Golgota. Perempuan yang paling tak diperhitungkan justru menjadi pengikut yang paling setia.

Setelah Yesus beberapa kali menampakkan Diri, para pengikut berangsur-angsur berkumpul kembali di Yerusalem membentuk perse¬kutuan jemaat. Jumlahnya kira-kira 120 orang. Dikuatkan oleh Roh Kudus mulai memberitakan Injil tentang Yesus Kristus. Mereka disebut penganut “jalan Tuhan” atau “sekte orang Nasrani” dan kemudian “Kristen”. Kesaksian hidup dan pemberitaan Injil mereka menarik hati sejumlah besar orang, sehingga dengan cepat jumlah mereka bertambah. Tantangan-tantangan yang dihadapi membuat umat justru makin tersebar. Bahkan ada orang yang dahulu berusaha keras menghancurkan “Jalan Tuhan” itu juga ikut bergabung. “Jalan Tuhan” semakin berkembang dan menyebar keluar Palestina sampai “ujung bumi” yaitu Roma sebagai pusat kekaisaran Romawi pada waktu itu.

2.3. Evangelisasi sampai sekarang.

Dari Roma, memasuki abad ke duapuluh ini jemaat Kristen telah hadir di ke lima benua kita. Jumlahnya dari 120 sudah menjadi sekitar 1.500.000.000 orang. Dahulu hanya ada di Yerusalem seka¬rang sudah di seluruh dunia.

Namun ... masih ada 3.500.000.000 penduduk dunia yang belum mengenal Yesus Kristus. Padahal sudah 2.000 tahun. Apakah karena Injil Yesus Kristus tidak mudah diterima orang? Adakah hambatan-hambatan khusus dalam manusia sekarang sehingga semakin sulit membuka diri terhadap Injil? Apakah karena kurang adanya pemberi¬taan Injil? (bdk. Roma 10:14-15) Apakah mereka kurang bersemangat dan kurang berusaha untuk memberitakan Injil? Mungkinkan jemaat sekarang telah “menyimpang dari semangat Kristus dan InjilNya”? (Yoh. Paulus II)

Inilah tantangan bagi generasi muda Kristiani sebagai penyan¬dang millenium ke-3.

3. DIUTUS UNTUK MEMBERITAKAN INJIL.

a. Yesus pada usia 12 tahun di Bait Allah menunjukkan kesadaran untuk memberitakan Injil. Kira-kira usia 30 tahun Ia mulai memberitakan Injil, mengajar di rumah-rumah ibadat di seluruh Galilea; ini sudah menjadi pekerjaanNya dan kebiasaanNya pada tiap-tiap hari Sabat. Tugas dilaksanakan dengan berinspirasi pada Yesaya 61:1-2: “menyam¬paikan kabar baik” kepada orang-orang miskin dan “memberitakan pembe¬basan” bagi orang-orang tahanan (bdk Lukas 4:16-20).
b. Yesus juga mengutus murid-muridNya sudah sejak masih hidup di bumi, lalu dipertegas setelah kebangkitanNya. Waktu Yesus masih di bumi, para murid hanya diutus kepada umat Israel. Setelah bangkit, diutus ke seluruh dunia. “Missi nasional” menjadi “missi universal”. Misi evangelisasi ini menyatu dengan kehidupan jemaat pertama, se¬hingga sama seperti Yesus yang hidup untuk memberitakan Injil, demi¬kian juga jemaat pertama hidup untuk memberitakan Injil. Mereka telah memperoleh rahmat Kerajaan Allah dengan cuma-cuma, karena itu mereka pula wajib membagikannya dengan cuma-cuma.
c. Keyakinan Gereja akan tugas memberitakan Injil masih tetap sama. Tapi semangatnya beda. Dahulu semangat besar dan berkobar, sehingga tak dapat dipadamkan oleh siapapun dan oleh apapun juga (Kisah 4:18-20; 5:27-29), sekarang sudah berkurang. “Seluruh kelompok orang yang sudah dipermandikan sudah kehilangan semangat iman yang hidup, atau bahkan tidak lagi memandang diri mereka sebagai anggota Gereja, dan menjalani kehidupan yang jauh terpisah dari Kristus dan InjilNya.” (Redemptoris Missio 33). “Hal tersebut nampak dalam kelelahan, khaya¬lan, sikap kompromi, kurang minat dan lebih-lebih tidak adanya suka¬cita dan kurang pengharapan (Evangelii Nuntiandi 80). Dan salah satu penyebab utamanya ialah anggapan bahwa evangelisasi bertentangan dengan kebebasan agama, dan bahwa evangelisasi tidak perlu karena di luar Gereja juga ada keselamatan (bdk Evangelii Nuntiandi 80). Kenya¬taan ini sangat menyedihkan, karena sementara agama Islam sedang giat-giatnya melakukan “dakwah” (penyiaran agama), agama Kristen malah kekurangan semangat evangelisasi.
d. Konsili Vatikan II (AG), Paus Paulus VI (ES, 1966; EN, 1975) dan Paus Yohanes Paulus II (RM, 1990), berusaha menyalakan kembali semangat evangelisasi, mengajak segenap anggota Gereja membaharui kembali semangat dan keterlibatan dalam misi dan evangelisasi; dengan menimba semangat misi Yesus dan murid-murid pertama.

4. MEMBERITAKAN INJIL TENTANG KERAJAAN ALLAH DAN YESUS KRISTUS.

a. Yesus pertama-tama menyerukan pertobatan sebagai sikap dasar dalam menyambut kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dekat (bdk. Matius 4:17; Markus 1:14-15). Kerajaan Allah ini begitu penting dan berhar¬ga, sehingga semua orang harus memohonnya (bdk Matius 6:10; Lukas 11:2), mencarinya (bdk Matius 6:33; Lukas 12:31) dan membelinya (bdk Matius 13:44-46). Untuk memperolehnya orang harus bersedia meninggal¬kan segala sesuatu dan mengikuti Yesus (bdk Matius 19:16-26; Markus 10:17-27; Lukas 18:18-27). Demi Kerajaan Allah orang harus “membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri” (Lukas 14:26). Untuk menyambutnya orang harus bertobat dan kembali menjadi seperti seorang anak kecil (Markus 10:15; Lukas 18:17) yang polos dan terbuka terha¬dap Injil (bdk Markus 1:15).
a. Kerajaan Allah adalah pembebasan dari penderitaan, sengsara dan situasi tertindas yang membawa keputusasaan dan hidup tanpa harapan, oleh Allah yang datang dengan kekuatanNya untuk menghantar mereka kembali ke tanah terjanji. Relasi Allah dengan manusia menjadi relasi antara Bapa dengan anak (bdk Doa Bapa Kami).
b. Selagi masih di bumi Yesus dan para muridNya memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah. Sesudah wafat dan kebangkitanNya, lambat laun Yesus diberitakan sebagai Injil yang diberitakan oleh para muridNya. (Kisah 2:22-24.36; bdk Kisah 3:12-26; 4:8-12 dll). Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus, para murid mulai melihat perwujudan dan pemenuhan Kerajaan Allah dalam Diri Yesus (bdk Kisah 14:22-23; 19:8-10; 28:23-24). Maka mereka memberitakan Yesus sebagai “Tuhan dan Kristus” (Kisah 2:36) serta “Pemimpin dan Juruselamat” (Kisah 5:31), supaya “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Markus 16:16; Roma 10:9-10).
c. Apakah Gereja sekarang masih tetap memberitakan Injil mengenai Kera¬jaan Allah yang mendapat perwujudan dan pemenuhan dalam diri Yesus Kristus? Apakah tidak hanya bersifat “antroposentris” (berfokus pada kebutuhan-kebutuhan duniawi manusia belaka), “teosentris” (berfokus pada Allah, tanpa menyinggung Yesus Kristus), dan “kerajaan sentris” (berfokus pada nilai-nilai kerajaan, dengan melupakan peranan Gereja sebagai sakramen keselamatan; bdk Redemptoris Missio 17). Seandainya ini yang terjadi, maka para pemberita Injil yang demikian pantas untuk ‘dikutuk’, karena telah memberitakan suatu Injil yang berbeda dengan Injil para rasul (bdk Galatia 1:6-9).
d. Evangelisasi Baru hanya dapat berkembang kalau mampu memberikan jawaban yang tepat atas segala pertanyaan manusia masa kini menyang¬kut Injil Yesus Kristus dan pewartaanNya tentang Kerajaan Allah. Kendatipun jawaban tepat untuk masa kini itu tidak dapat dikutip dari kitab Injil dengan rumusan yang siap pakai, namun hanya dapat ditemu¬kan dengan kembali bertolak dari Kitab itu, serta mempelajari dan merenungkan apa yang diwartakan oleh Yesus sendiri dan para muridNya. Hanya dengan demikian kekayaan injil dan keyakinan iman Gereja dapat diwarisi oleh generasi mendatang, sehingga mereka tidak menjalani kehidupan yang jauh terpisah dari Kristus dan Injil KerajaanNya” (Redemptoris Missio 33).

5. MEMBERITAKAN INJIL DENGAN PENUH WIBAWA DAN KEBERANIAN.

a. Yesus memberitakan Injil dengan penuh wibawa dan kuasa; tidak hanya meneruskan ajaran tradisional melainkan berani mengoreksi dan memper¬baikinya. Ini membuat para pendengarnya takjub, memperbincangkannya, membenarkan Dia, menjadi percaya kepadaNya.
b. Para Rasul memberitakan Injil dengan berani, kendati dilarang oleh Mahkamah Agama Yahudi, bahkan siap menjadi martir, juga ketika berada dalam tahanan.
c. Mengapa sekarang Gereja tidak lagi memberitakan Injil dengan wibawa, kuasa dan keberanian yang sama (bdk Evangelii Nuntiandi 80)? Apakah banyak pemberita Injil sendiri ragu-ragu dan kurang yakin akan “kebenaran” Injil yang diwartakannya? Apakah mereka bingung karena banyaknya “ajaran sesat” yang bertentangan dengan “kebenaran”?
d. Yang diperlukan adalah keterbukaan terhadap karya Roh Kudus, Roh Yesus Kristus. Bagaimana dapat menerima kuasa Roh Yesus ini? Yesus menjamin bahwa Roh itu pasti akan diberikan kepada mereka yang dengan tekun mencari dan memintanya kepada Bapa (Lukas 11:13).

6. MEMBERITAKAN INJIL DALAM BAHASA PENDENGAR.

a. Yesus menggunakan perumpamaan karena rahasia/misteri Kerajaan Allah tak dapat diterangkan dengan cukup dengan kata-kata manusiawi belaka.
b. Para Rasul memberitakan Injil “dalam bahasa mereka sendiri-sendiri”, masuk dalam kebudayaan pendengar. Petrus, yang berkotbah kepada orang Yahudi, menggunakan bahsa Kitab Suci (Kisah 2:14-36), sedangkan Paulus, yang berkotbah kepada orang Yunani menggunakan bahasa pujang¬ga Yunani (Kisah 17:22-31).
c. Bukankah istilah ‘agama import’ belum hilang dalam Gereja sekarang?
d. Inkulturasi, kontekstualisasi harus dilaksanakan oleh segenap anggota Gereja: mengenal bahasa tempat mereka bekerja dan menjadi biasa dengan ungkapan-ungkapan paling penting kebudayaan lokal.

7. MEMBERITAKAN INJIL SAMBIL BERBUAT BAIK BAGI YANG MENDERITA

a. Yesus memberitakan injil sambil berbuat baik, menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa kita, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membebaskan yang miskin dan bersengsara.
b. Yesus juga memberi kuasa kepada para murid untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Maka para rasul membuat berbagai mukjijat, menyembuhkan banyak orang sakit dan membebaskan orang-orang yang kerasukan roh jahat. Namun juga secara khusus mereka memperhatikan orang yang miskin dan berkek¬urangan: mereka menjual harta miliknya dan hasilnya oleh para rasul dibagi-bagi sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Untuk meningkatkan pelayanan sehari-hari mereka memilih sekelompok Diakon.
c. Bagaimana Gereja sekarang? Paus mengingatkan “Orang dewasa ini lebih banyak menaruh kepercayaan kepada kesaksian daripada pengajar-penga¬jar, pada pengalaman daripada ajaran, dan pada kehidupan serta tinda¬kan daripada teori-teori. Apakah Gereja masih termasuk anggota “NATO” (No Action Talk Only)? Bagaimana pelaksanaan “option for the poor”?
d. Gereja dihimbau untuk menjadi saksi-saksi Kristus. METODE BARU: Mewartakan Injil dengan kesaksian nyata; dengan berbuat baik.

8. MEMBERITAKAN INJIL BERSAMA-SAMA.

a. Yesus memanggil murid-muridNya untuk ikutserta dalam karyaNya. Yesus juga meminta para muridNya bekerja dalam kebersamaan: mengutus mereka berdua-dua.
b. Jemaat pertamapun selalu bekerja dalam kebersamaan: Petrus bersama kesebelas orang lainnya, kadang bersama Yohanes. Barnabas bersama Paulus, Paulus pernah juga bersama Markus atau Lukas.
c. Bukankah sekarang banyak yang masih belum mau terlibat, atau kalau mau terlibat ya sebagai ‘single fighter’, bekerja sendirian. Padahal Yesus menghendaki agar para muridNya berkarya dalam persatuan.
d. Perlu adanya kerjasama dari seluruh anggota Gereja untuk tugas pen¬ginjilan.

9. PERANAN GENERASI MUDA

9.1. Generasi muda ber-evangelisasi.

Dari Evangelii Nuntiandi 66: Seluruh Gereja dipanggil untuk melakukan evangelisasi .... dengan melakukan macam-macam tugas evangelisasi .... dalam kesatuan perutusan Gereja. Generasi muda berevangelisasi berarti: melaksanakan tugas dan kewajibannya seba¬gai anggota Gereja .... dalam bidang liturgi, pewartaan, pelayanan, politik, dll .... dengan bahu membahu dengan generasi tua.

9.2. Menjadi pewarta bagi kaum muda.

GLOBALISASI membawa akibat positif: Gereja dapat mengkomunikas¬ikan dan membagikan pengalaman hidup dan imannya akan Yesus Kristus kepada mereka yang belum mengenalnya; sedangkan akibat negatifnya: “relativisme, indifferentisme, sinkretisme”. Padahal kaum muda sedang dalam proses pencarian dan pembentukan identitas atau jati diri, belum mempunyai kepribadian yang utuh dan mantap, sehingga mudah sekali terperangkap oleh jerat dan godaan.

Paus Paulus VI: “Kaum muda yang terlatih baik dalam iman dan doa, haruslah makin lama makin menjadi rasul-rasul kaum muda.” - bagi generasi sebayanya.

Alasan bahwa belum berpengalaman dan tidak pandai bicara (Yer 1:6) semoga berproses menjadi “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8).

Orang muda yang tidak berani menanggapi panggilan Yesus untuk “berbuat sesuatu demi memperoleh hidup yang kekal” (bdk Matius 19:16; Markus 10:17; Lukas 18:18) yakni dengan “pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku” (Matius 19:21; bdk. Markus 10:21; Lukas 18:22) - karena hartanya banyak - mungkin bisa kita temui juga diantara kaum muda kita. Misalnya, perhatian dan minat mereka menjadi rohaniwan-rohaniwati? Semoga kaum muda mendengarkan sungguh-sungguh pesan Paus Yohanes Paulus II yang dalam Minggu Missi Sedunia 1994 kepada kaum muda: “Pengungkapan tertinggi dari kemurahan hati adalah pemberian diri sendiri seutuhnya.

Pada kesempatan Hari Misi Sedunia saya harus mengarahkan perha¬tianku secara khusus kepada kaum muda. Kaum muda terkasih! Tuhan telah menganugerahkan kamu hati yang terbuka pada cakrawala yang luas: janganlah takut untuk melibatkan seutuhnya hidup kamu dalam pelayanan akan Kristus dan InjilNya! Dengarkanlah Dia yang hari ini juga mengulangi: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit’. (Lukas 10:2).

Dalam hal tokoh idola baiklah kaum muda diperkenalkan dengan tokoh-tokoh muda dalam Kitab Suci: YUSUF, YOSUA, GIDEON, RUT, SAMUEL, DAUD, TOBIT-TOBIA, YUDIT, YEREMIA, ESTER, YUDAS MAKABE, YOHANES PEMBAPTIS, PAULUS, TIMOTIUS, MARIA, dan tentu saja YESUS sendiri. Mereka sungguh hidup menurut tradisi iman nenek moyang mereka yang unggul (bdk Ulangan 4:7-8), sehingga “Mereka sekalian sangat terhormat pada orang sejamannya dan pada jamannya dibangga¬kan. Beberapa diantaranya meninggalkan nama yang harum dan masih terus dibicarakan dengan hormat” (Sirakh 44:7-8). Harapan Yesus bin Sirakh: “Semoga tulang belulang mereka bertunas dari dalam kubur¬nya, dan semoga nama orang-orang yang termasyur itu mendapat peng¬ganti pada anak-anak mereka!” (Sirakh 46:12) semoga juga menjadi harapan Gereja sekarang. Sehingga pertama-tama kaum muda itu sen¬diri dapat menjadi “semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia” (1 Samuel 2:26; Lukas 2:52); lalu juga Gereja akan “disukai semua orang” (Kisah 2:47) dan “sangat dihormati orang banyak” (Kisah 5:13).

9.3. MENYIMPAN DAN MENERUSKAN TRADISI IMAN.

Sebagai yang sedang tumbuh dan mencari jati dirinya, tugas dan kewajiban khusus generasi muda ialah “menimba kekayaan hidup dan iman dari generasi tua, menjaga dan memeliharanya sebagai warisan berharga, lalu - dengan semangat, metode dan ungkapan baru - meng¬komunikasikan dan menyalurkannya kepada generasi selanjutnya (bdk Amsal 4:1-27). Demikian mereka dapat berpegang teguh pada kebenaran iman yang telah mereka terima dan yakini (bdk 1 Korintus 15:1-2; 2 Timotius 3:14-15). Seperti TIMOTIUS dan TITUS dalam Perjanjian Baru, generasi muda hendaknya menjadi “penerima” dan “pelaku” evangelisasi dengan memupuk dan memperkembangkan talenta iman mereka supaya “tidak kehilangan semangat yang hidup atau bahkan tidak lagi memandang diri mereka sebagai anggota Gereja, dan men¬jalani kehidupan yang jauh terpisah dari Kristus dan InjilNya” (Redemptoris Missio 33), melainkan sungguh-sungguh menjadi rasul-rasul, khususnya bagi kaum sebayanya.

Evangelii Nuntiandi = EVANGELII NUNTIANDI; Redemptoris Missio = REDEMPTORIS MISSIO; Ad Gentes = AD GENTES; Dignitatis Humanae = DIGNITATIS HUMANAE; Dei Verbum = DEI VERBUM; Lumen Gentium = LUMEN GENTIUM; ES= ECCLESIAE SANCTAE


Kumpulan Bacaan & Renungan

[News]  382 hits Percaya

[News]  129 hits PROFICIAT OMK SUKAJADI

[News]  259 hits Basecamp KMK Berbenah

[Renungan]  704 hits Membedakan gerak roh baik dan roh jahat

[News]  77 hits Komunitas Karyawan Muda Katolik

[News]  142 hits Kabar-kabari dari Rio,...

Top Artikel Populer July 2014

[News]   2014-07-04 10:02:10   893 hits Jadilah Pemilih yang Cerdas

[News]   2014-07-01 05:33:35   88 hits Pilihanmu Masa Depan Kita

[News]   2014-07-03 05:42:36   77 hits Dari Altar ke Pasar

[News]   2014-07-10 10:29:33   63 hits KKMK dalam MISA

[News]   2014-07-08 06:55:54   63 hits AYD 2014 Korea Pisan

[Klaudia]   2014-07-03 17:04:53   61 hits Kenapa Sih Ada Jumper

X

#{text}