Peranan Imam dan Katekis dlm Pewartaan
[ News ] posted by Antonius Haryanto   2012-12-05 13:48:08   ( dilihat 472 )

Bersama Uskup, Majalah Komunikasi

No 384 Oktober 2012

27 November 2012 (Budhi Y)

 

PERANAN IMAM DAN KATEKIS DALAM PEWARTAAN DI ERA DIGITAL

 

Pengantar

Ketika saya sedang menyiapkan tulisan ini, saya dengar di Bandung akan diadakan Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se-Indonesia (PKKI) dengan pokok pembahasan seperti yang tercantum dalam judul ini. Dalam pertemuan itu pasti akan ada pembicaraan dan diskusi yang mendalam. Dalam tulisan sederhana ini ingin saya tawarkan beberapa gagasan kecil, semoga ada manfaatnya untuk memancing perenungan yang lebih dalam.

 

Era digital: kesadaran akan jati diri yang berubah

Tidaklah mudah untuk membuat definisi atau deskripsi tentang era digital. Yang jelas lahirnya sistem digital membuat  teknologi  informasi dan komunikasi berkembang luar biasa pesat. Perkembangan yang amat pesat ini, sadar atau tidak, mau tidak mau dengan sendirinya amat berpengaruh pada kesadaran manusia akan jati dirinya. Pada gilirannya, pergeseran kesadaran akan jati diri manusia ini akan sangat besar pengaruhnya pada cara berpikirnya, perilakunya, bahasanya dan tentu saja juga akan pilihan-pilihan nilai dalam hidup.

Kita kenal seorang filsuf berbangsa Perancis yang bernama Rene Descartes. Salah satu pokok pikirannya diringkas dalam rumusan ''Saya berpikir maka saya ada''. Gagasan ini muncul sebagai sejenis protes terhadap keadaan ketika hidup manusia dirasa terlalu ditentukan oleh yang disebut rencana Allah. Dalam keadaan seperti itu manusia seolah-olah kehilangan kebebasannya. Maka muncullah rumusan tersebut untuk menyatakan bahwa jati diri manusia adalah berpikir bebas, tidak menggantungkan hidupnya kepada Allah. Dalam perkembangan, muncul pula rumusan lain ''Saya berbelanja maka saya ada''. Rumusan ini muncul di tengah-tengah derasnya arus konsumerisme. Jati diri manusia ditentukan oleh seberapa banyak ia berbelanja, di mana ia berbelanja, merek apa yang ia beli dan sekitar itu. Ruang batin manusia tempat Allah seharusnya bersemayam tentu akan sangat terpengaruh, dalam arti dapat dengan mudah menjadi semakin tertutup, semakin sempit, semakin tidak peka.

 

Proses detradisionalisasi

Salah satu akibat dari kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang luar biasa ini adalah proses detradisionalisasi. Semula yang disebut tradisi, sadar atau tidak, dianggap satu-satunya pegangan hidup. Kalaupun sekarang ini tradisi masih punya tempat, dia bukanlah satu-satunya melainkan hanya salah satu dari sekian banyak penafsir kebenaran. Misalnya, mungkin saja sekelompok orang masih yakin akan kebenaran peribahasa ''berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian''. Namun sekelompok yang lain akan mengatakan, ''kalau bisa langsung bersenang-senang, mengapa harus bersakit-sakit dahulu ?''

 

Manusia zaman ini mempunyai banyak informasi yang ditawarkan oleh media massa. Informasi ini akan ia banding-bandingkan dan ia akan memilih yang ia anggap cocok untuk hidup sehari-hari. Sementara itu ''cocok'' belum tentu berarti baik dan benar, bisa jadi cocok berarti menyenangkan dan gampang. Misalnya seseorang mendapat informasi dari media massa mengenai tingginya angka perceraian atau sinetron-sinetron mengenai perceraian. Sementara itu, dia sendiri sebagai seorang Katolik sedang mengalami kesulitan dalam hidup berkeluarga. Seharusnya menurut tradisi Katolik, ia terikat oleh tali perkawinan yang tidak bisa diceraikan. Tetapi bisa saja karena informasi itu dia mengambil keputusan bercerai dengan alasan ''sudah banyak perceraian, kalau saya tambah satu tidak apa-apa''. Belum lagi kalau kita ingat akan manipulasi psikologis yang dijalankan oleh kekuatan tekno kapital melalui media massa, khususnya iklan.

Inilah arus-arus deras yang sekarang ini sedang terus mengalir dan berpengaruh besar terhadap pandangan manusia terhadap dirinya sendiri, pandangannya tentang keluarga, tentang dunia dan tentang Allah. Inilah tantangan besar bagi karya pewartaan Gereja masa kini, khususnya dalam bidang katekese yang bertugas untuk “memajukan dan mematangkan pertobatan awal, mendidik orang yang bertobat dalam iman dan menggabungkannya dalam Komunitas Kristiani” (Petunjuk Umum Katekese no. 61). Sementara itu ''mewartakan Injil adalah rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam'' (Evangelii Nuntiandi, no 14).

 

Akhir kata

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke salah satu stasi yang jauh dari paroki. Waktu itu saya berjumpa dengan seorang katekis dan saya bertanya kepadanya, ''Pak, berapa calon baptis dewasa yang Bapak dampingi?'' Dia mengatakan bahwa dia mendampingi sembilan puluh dua orang calon baptis. Pastor paroki membenarkan jawaban itu ketika saya menanyakan kepadanya. Lalu saya bertanya, ''Apakah Bapak pernah bertanya, mengapa mereka ingin menjadi warga Gereja Katolik?'' Dia mengiyakan dan mengatakan, beberapa di antara mereka ingin menjadi warga Gereja Katolik karena senang mendengarkan doa yang diucapkan oleh orang Katolik pada waktu mengantar jenazah ke makam. Mereka mengatakan senang karena kata-kata yang dipakai dipahami, menyentuh hati, ''kena'' di hati. Saya yakin, di zaman seperti apapun, termasuk di era digital, manusia tetaplah pribadi yang mempunyai hati. Bahkan harus dikatakan, pusat pribadi manusia adalah hati-nya. Tantangan paling besar di era digital dengan demikian adalah menemukan bahasa yang dapat menyentuh hati pribadi-pribadi zaman sekarang ini. Bahasa seperti apakah itu? Mari kita cari jawabannya. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda, keluarga dan komunitas Anda

+ I. Suharyo

Kontributor Majalah Komunikasi No 384 Oktober 2012

Sumber: http://keuskupanbandung.org/main/Post/2454



Kumpulan Bacaan & Renungan

[Renungan]  457 hits Lima Perintah Gereja

[News]  223 hits Agenda OMK PANDU

[News]  78 hits Berbagi Pengalaman

[News]  653 hits Merayakan Ekaristi, Ikrar OMK

[Renungan]  207 hits Keyakinan yang membawa perubahan

[News]  323 hits Kami Terinspirasi Steve Jobs

Top Artikel Populer November 2014

[News]   2014-11-06 05:15:31   100 hits Fun Day Umat Katolik se-Katabapa

[News]   2014-11-03 04:26:26   89 hits WAS-WAS ADA KLENIK

[Klaudia]   2014-11-06 22:16:18   89 hits Kalau Koor Nyanyi, Kita Nyanyi juga dong..

[News]   2014-11-17 10:02:08   82 hits Reuni Akbar KMK STT TELKOM

[Klaudia]   2014-11-14 04:48:08   77 hits Benda Rohani Diberkati, Boleh Dibuang?

[News]   2014-11-07 07:34:19   74 hits Gereja Harus Keluar dari Zona Nyaman

X

#{text}